
Jakarta, 29 April 2026 – Menjelang penyelenggaraan ADEXCO 2026 (Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference), pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan mitra strategis mulai memperkuat kolaborasi dalam mendorong transformasi pendekatan kebencanaan nasional dari sekadar respons risiko menuju pengembangan industri berbasis inovasi dan resilience-driven economy. Momentum tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Road to ADEXCO 2026 bertajuk “Implementasi Kemandirian Inovasi Teknologi dan Industrialisasi Kebencanaan” yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (29/4).
Pendekatan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa bencana tidak lagi dapat dipandang semata sebagai fenomena alam, melainkan berkaitan erat dengan kesiapan sistem, teknologi, dan kemampuan dalam mengelola risiko. Sepanjang 2025, tercatat 4.727 kejadian bencana di Indonesia, sementara hingga April 2026 telah terjadi lebih dari 800 kejadian dengan estimasi kerugian ekonomi mencapai lebih dari Rp22 triliun per tahun. Kondisi ini semakin menegaskan urgensi penguatan sistem mitigasi, pengembangan teknologi kebencanaan, serta pembangunan ekosistem industri yang lebih tangguh dan terintegrasi. Dalam konteks tersebut, teknologi kebencanaan juga mulai dipandang sebagai bagian dari aset strategis nasional yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pembangunan dan ekonomi nasional.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menekankan bahwa tantangan kebencanaan tidak lagi dapat dipandang semata sebagai fenomena alam, tetapi berkaitan erat dengan kesiapan sistem dan kemampuan dalam mengelola risiko. “There is no such thing as a natural disaster. Bencana terjadi ketika kita tidak siap dan gagal mengelola risiko. Karena itu, kita perlu mengubah cara pandang, dari beban menjadi peluang, dari risiko menjadi inovasi, dan dari ketergantungan menjadi kemandirian,” ujar Dr. Raditya Jati, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB.

Ia juga menambahkan bahwa daerah rawan bencana tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah berisiko, tetapi dapat berkembang menjadi ruang pengembangan inovasi dan teknologi kebencanaan yang relevan dengan kebutuhan riil di lapangan. Menurutnya, kompleksitas risiko dan karakter geografis Indonesia menjadikan Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat inovasi dan center of excellence teknologi kebencanaan di kawasan.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyoroti pentingnya transformasi mendasar dalam pendekatan Indonesia terhadap teknologi kebencanaan. “Kita menunggu bencana lalu merespons, kita butuh teknologi lalu membeli. Ini bukan strategi, ini siklus ketergantungan yang harus dihentikan,” ujar Febrian Alphyanto Ruddyard.
Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu beralih dari sekadar pengguna menjadi produsen teknologi kebencanaan yang berdaya saing global, termasuk melalui penguatan rantai pasok teknologi kebencanaan nasional dan pengembangan kapasitas industri dalam negeri. Menurutnya, Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun industri kebencanaan nasional melalui kompleksitas risiko, kebutuhan pasar yang nyata, serta posisi Indonesia sebagai “laboratorium alami” bagi pengembangan teknologi mitigasi dan ketahanan bencana.
Seminar nasional ini turut menghadirkan perwakilan pemerintah, industri, akademisi, lembaga riset, komunitas kebencanaan, serta mitra internasional untuk membahas penguatan ekosistem industri kebencanaan nasional. Dalam konteks tersebut, forum juga menyoroti pentingnya pendekatan demand-driven innovation dan user-driven innovation, di mana kebutuhan nyata pemerintah dan masyarakat menjadi dasar pengembangan teknologi dan inovasi.
Selain itu, seminar menekankan perlunya membangun ekosistem terintegrasi, di mana riset unggulan periset lokal dapat terhubung dengan kapasitas manufaktur nasional, dukungan kebijakan, pembiayaan, hingga kebutuhan riil di lapangan. Pembahasan forum juga menekankan bahwa industrialisasi kebencanaan perlu dibangun secara menyeluruh mulai dari tahap riset, feasibility study, piloting, prototyping, inkubasi, hingga komersialisasi untuk memastikan inovasi tidak berhenti pada tahap riset dan prototipe, tetapi dapat berlanjut hingga tahap implementasi dan penggunaan nyata di industri maupun masyarakat.
Forum ini turut mendorong sejumlah langkah awal menuju pengembangan industri kebencanaan nasional. Di antaranya melalui penyelarasan lintas sektor antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan mitra strategis untuk menyusun Kerangka Kerja Nasional Pengembangan Industri Kebencanaan sebagai acuan bersama. Forum ini juga ditandai dengan inisiasi awal kolaborasi implementatif melalui penjajakan pilot project antara inovator teknologi dan pelaku industri, serta dorongan pembukaan akses pembiayaan, investasi, dan skema pendanaan inovasi melalui keterlibatan pemerintah maupun sektor swasta, termasuk pembahasan dukungan insentif fiskal dan penguatan kepastian pasar bagi inovasi teknologi dalam negeri.
Langkah-langkah tersebut menandai pergeseran forum dari sekadar ruang diskusi menuju tahap awal implementasi (pre-implementation) dalam membangun ekosistem industri kebencanaan yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan. Seluruh pengembangan tersebut juga menempatkan pendekatan yang berpusat pada masyarakat (people-centered approach) sebagai fondasi utama dalam membangun ketahanan nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pendekatan kolaboratif lintas sektor tersebut kemudian menjadi fondasi utama penyelenggaraan ADEXCO 2026, yang diposisikan sebagai platform strategis untuk mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan mitra internasional dalam mempercepat pengembangan ekosistem kebencanaan nasional melalui pendekatan pentahelix.
Direktur Operasional ADEXCO, Andrian W. Cader, menyampaikan bahwa pendekatan kolaboratif lintas sektor menjadi elemen penting dalam mempercepat hilirisasi inovasi dan implementasi teknologi kebencanaan di Indonesia. “Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Riset harus menjawab kebutuhan industri dan industri harus terhubung sejak awal,” ujar Andrian W. Cader.
Ia menambahkan bahwa ADEXCO berupaya mengambil peran sebagai platform yang mempertemukan kebutuhan industri, inovasi teknologi, investasi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat terbentuknya pasar dan ekosistem industri kebencanaan nasional. Melalui pendekatan tersebut, ADEXCO diharapkan tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga platform strategis untuk mempercepat hilirisasi inovasi, transfer teknologi, business matching, dan pengembangan industri kebencanaan Indonesia di tingkat regional.

Hasil dan rekomendasi dari seminar ini akan menjadi bagian penting dalam agenda ADEXCO 2026 yang akan diselenggarakan pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta. ADEXCO 2026 akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan nasional maupun internasional di bidang disaster management, civil protection, emergency response, serta teknologi mitigasi kebencanaan sebagai platform strategis lanjutan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, mempercepat implementasi inovasi, serta mendorong pengembangan industri kebencanaan nasional yang berdaya saing global.
Kontak Media
Marketing IEE Series
[email protected]