9 - 12 SEP 2026

Jakarta International Expo

4 Peran USV Dalam Operasi Bencana di Indonesia

Gambar : Wikipedia

Dalam operasi penyelamatan bencana, salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menjangkau korban di area yang tidak bisa diakses oleh manusia secara langsung. Genangan banjir yang dalam, arus deras, air yang terkontaminasi, atau medan pasca-tsunami yang tidak stabil sering kali menjadi penghalang nyata bagi tim SAR. Di sinilah Unmanned Surface Vehicle (USV) atau kapal tanpa awak hadir sebagai solusi yang semakin relevan.

USV adalah kendaraan permukaan air yang dapat dioperasikan secara jarak jauh maupun secara otonom tanpa memerlukan awak di dalamnya. Teknologi ini awalnya berkembang di sektor militer dan survei hidrografi, namun kini semakin banyak diadaptasi untuk kebutuhan kemanusiaan, khususnya dalam operasi pencarian dan penyelamatan atau Search and Rescue (SAR) saat bencana banjir dan tsunami.

Apa Itu USV?

Unmanned Surface Vehicle (USV) bekerja dengan menggabungkan sistem navigasi berbasis GPS, Inertial Navigation System (INS), radar, dan algoritma kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan jalur pergerakan secara presisi. USV dapat dikendalikan dari pusat komando di darat melalui jaringan radio, satelit, atau koneksi internet, sehingga personel SAR tidak perlu terjun langsung ke area yang berbahaya.

Untuk keperluan operasi bencana, USV umumnya dilengkapi dengan kamera real-time, sensor termal untuk mendeteksi panas tubuh korban, sonar untuk pemetaan bawah air, serta sistem pengiriman ringan untuk menyalurkan pelampung, makanan, atau obat-obatan darurat. Ukurannya yang relatif kecil memungkinkan USV masuk ke lorong-lorong sempit, perairan dangkal, dan kawasan yang tidak bisa dilalui perahu bermesin konvensional.

Peran USV dalam Operasi Bencana Banjir dan Tsunami

Berikut adalah empat peran USV dalam operasi bencana:

  1. Pencarian korban. Menurut hasil pengamatan yang dikutip dari riset Sentrinov 2020, proses pencarian adalah tahap paling sulit dalam operasi SAR karena sering kali berada di luar kemampuan manusia. USV dapat digunakan di perairan yang tidak bisa dilalui kapal berawak, termasuk lingkungan dengan tingkat ancaman tinggi atau area yang terkontaminasi. Banyak penolong pertama menyatakan bahwa mereka dapat menyelamatkan korban jika posisinya sudah diketahui. USV menjawab masalah ini dengan pemetaan area secara cepat menggunakan kamera dan sensor termal.
  2. Pengiriman bantuan darurat. USV dapat membawa pelampung, tali penyelamat, dan kebutuhan darurat lainnya ke titik-titik yang tidak bisa dijangkau helikopter atau perahu berawak, khususnya di bawah jembatan roboh, lorong gedung terendam, atau kawasan dengan bahaya listrik.
  3.  Pemantauan kondisi lapangan secara real-time. Kamera dan sensor yang terintegrasi pada USV memungkinkan tim komando mendapatkan gambaran kondisi lapangan secara langsung tanpa harus mengirimkan personel. Data ini penting untuk menentukan strategi evakuasi yang tepat dan aman.
  4. Pemetaan pasca-bencana. Setelah gelombang tsunami surut, USV dapat digunakan untuk memetakan kondisi dasar perairan, mendeteksi rintangan bawah air, dan mengidentifikasi area yang aman untuk diakses tim SAR maupun kendaraan evakuasi.

Perbandingan USV dengan Metode Penyelamatan Konvensional

AspekMetode KonvensionalMenggunakan USV
Keselamatan Tim SARPersonel harus masuk langsung ke area berbahayaPersonel tetap aman, USV dioperasikan dari jarak jauh
Kecepatan ResponsBergantung pada jumlah personel dan akses fisikDapat langsung dikerahkan ke lokasi sulit dijangkau
Kemampuan Malam HariTerbatas, visibilitas rendah berisiko tinggiDilengkapi sensor termal dan kamera malam
Jangkauan Area BanjirTerbatas pada kedalaman aman bagi manusiaDapat beroperasi di perairan dangkal, sempit, dan beracun
Pengiriman BantuanManual, membutuhkan perahu dan awakOtomatis melalui sistem muat ringan di atas USV
Pemantauan Real-TimeTerbatas, laporan verbal dari lapanganData GPS, kamera, dan sensor langsung ke pusat kendali

Tantangan Penerapan USV di Indonesia

Meski potensinya besar, adopsi USV untuk operasi bencana di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebagaimana dicatat dalam riset tentang USV hidrografi di Indonesia, tantangan utama meliputi belum tersusunnya regulasi yang secara khusus mengatur operasi kapal otonom, tingginya biaya investasi awal, serta keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang robotika, sistem navigasi, dan pengelolaan data operasional.

Selain itu, infrastruktur komunikasi di wilayah terdampak bencana sering kali mengalami gangguan, yang dapat mempersulit pengendalian USV dari jarak jauh. Diperlukan sistem komunikasi cadangan berbasis satelit agar operasi tetap berjalan meski jaringan darat terputus.

Terlepas dari tantangan tersebut, kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dan institusi pendidikan sangat diperlukan untuk mempercepat pengembangan, pengujian, dan standarisasi USV khusus bencana agar siap dioperasikan ketika dibutuhkan.

2.139 Bencana di 2025 Jadi Momentum Adopsi Teknologi USV dalam Operasi SAR Indonesia

Dengan catatan lebih dari 2.000 bencana alam sepanjang 2025, Indonesia membutuhkan inovasi teknologi kebencanaan yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih efektif. USV adalah salah satu jawaban konkret yang sudah terbukti secara teknologi dan siap dikembangkan lebih jauh untuk konteks kebencanaan nasional.

Ingin mengetahui lebih banyak tren, inovasi teknologi, serta strategi mitigasi di sektor manajemen bencana? Tertarik untuk terhubung langsung dengan para pakar industri dan membuka peluang kolaborasi strategis dalam penanggulangan kedaruratan? Registrasi sekarang dan hindari antrean saat pameran berlangsung dengan cara klik tautan berikut: Pra-registrasi di sini!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai agenda, pembicara, dan detail pameran, kunjungi website resmi kami di www.adexco.id. Jangan lewatkan update terbaru, edukasi mitigasi, serta perkembangan industri manajemen bencana dengan mengikuti akun Instagram kami di @adexco.id.



Referensi