
Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki peran penting sebagai salah satu penyangga ekosistem sungai, sumber air bersih, serta menjadi pengatur tata air bagi wilayah di sekitar sungai. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kondisi DAS di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang tidak bisa diabaikan. Mengacu pada data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 1.156 kejadian banjir dan 169 kejadian tanah longsor di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa penyebab bencana tersebut terus berulang terjadi dikarenakan adanya kerusakan ekosistem hulu, deforestasi, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta lemahnya pengelolaan DAS.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kini pengelolaan DAS mulai mengadaptasi dan memanfaatkan teknologi modern seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI), serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui konsep citizen science. Melalui artikel ini, kita akan membahas mengapa monitoring DAS penting dilakukan, bagaimana teknologi IoT diterapkan dalam pemantauan DAS, dan manfaatnya bagi upaya mitigasi bencana di Indonesia.
Mengapa Pengelolaan DAS Penting di Indonesia?
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan ekosistem yang berperan mengatur aliran air dari hulu hingga hilir. Ketika fungsi DAS terganggu, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk banjir saat musim hujan maupun kekeringan saat musim kemarau. Sepanjang 2025, Indonesia mencatat sekitar 2.139 bencana alam, termasuk 1.156 kejadian banjir dan 169 tanah longsor.
Kerusakan DAS akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan minimnya upaya konservasi telah menurunkan kemampuan lingkungan dalam menyerap serta mengendalikan aliran air. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana sekaligus mengancam ketersediaan air bersih. Oleh karena itu, monitoring DAS secara berkelanjutan menjadi langkah penting untuk mendukung pengelolaan sumber daya air dan mitigasi bencana yang lebih efektif.
Penerapan Teknologi IoT dan Citizen Science dalam Pemantauan DAS
Pengembangan sistem monitoring DAS berbasis IoT dan citizen science dilakukan untuk mewujudkan pengelolaan daerah aliran sungai yang lebih terintegrasi, partisipatif, dan berbasis data. Sistem ini menggabungkan informasi terkait kondisi air, lahan, udara, serta aspek sosial dalam satu platform. Implementasinya didukung oleh teknologi penginderaan jauh, seperti Sistem Informasi Geografis (SIG), kecerdasan buatan (AI), serta elektronika dan instrumentasi yang saling terhubung.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Integrated Watershed Monitoring System, yaitu platform berbasis web yang mengintegrasikan data pemantauan DAS secara real time. Sistem ini dilengkapi Very Early Warning System (VEWS) yang mampu memberikan peringatan dini terhadap potensi banjir dan longsor dengan mempertimbangkan berbagai parameter, seperti curah hujan, kelembapan tanah, kondisi muka air, dan pergerakan tanah. Pengembangannya juga melibatkan masyarakat melalui pendekatan citizen science untuk meningkatkan partisipasi publik sekaligus memperkuat literasi kebencanaan.
Selain VEWS, pengembangan sistem monitoring DAS juga didukung oleh berbagai inovasi lainnya. Beberapa di antaranya adalah ModATHUS yang dimanfaatkan sebagai sistem deteksi dini longsor berbasis IoT, sementara SI TERKA memanfaatkan AI untuk mendukung rehabilitasi lahan dan konservasi tanah. Selain itu, WaterQ digunakan untuk memantau kualitas dan kuantitas air sungai secara real time. Integrasi teknologi tersebut memungkinkan pengumpulan data lingkungan yang lebih cepat dan akurat guna mendukung mitigasi bencana serta pengelolaan DAS yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Manfaat Monitoring DAS untuk Mitigasi Bencana
Penerapan sistem monitoring DAS berbasis IoT dan citizen science memberikan berbagai manfaat dalam mendukung mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan di Indonesia, antara lain:
- Mendukung Penyusunan Kebijakan Berbasis Data
Data hasil monitoring DAS dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran, mulai dari pencegahan banjir dan longsor hingga perencanaan ketersediaan air pada musim kemarau. - Membantu Program Rehabilitasi dan Konservasi DAS
Sistem monitoring memungkinkan pemantauan kondisi DAS secara berkelanjutan, sehingga perkembangan program rehabilitasi hutan dan konservasi lingkungan dapat dievaluasi dengan lebih efektif.
- Meningkatkan Efektivitas Sistem Peringatan Dini
Pemantauan tinggi muka air sungai secara real time memungkinkan potensi banjir terdeteksi lebih cepat. Dengan demikian, peringatan dini dapat disampaikan kepada masyarakat sebelum kondisi berkembang menjadi bencana.
Memperkuat Pengelolaan Lingkungan Berbasis Riset dan Teknologi
Pengelolaan DAS yang baik adalah investasi jangka panjang bagi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan teknologi IoT dan partisipasi masyarakat melalui citizen science menunjukkan bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan tidak harus selalu berskala besar dan mahal, sebab inovasi sederhana yang tepat sasaran pun dapat memberikan dampak signifikan.
Ingin mengetahui lebih banyak tren, inovasi teknologi, serta strategi mitigasi di sektor manajemen bencana? Tertarik untuk terhubung langsung dengan para pakar industri dan membuka peluang kolaborasi strategis dalam penanggulangan kedaruratan? Registrasi sekarang dan hindari antrean saat pameran berlangsung dengan cara klik tautan berikut: Pra-registrasi di sini!
Untuk informasi lebih lanjut mengenai agenda, pembicara, dan detail pameran, kunjungi website resmi kami diwww.adexco.id. Jangan lewatkan update terbaru, edukasi mitigasi, serta perkembangan industri manajemen bencana dengan mengikuti akun Instagram kami di @adexco.id.
Referensi
- Suara.com (12 Januari 2026) “Indonesia Dilanda 2.139 Bencana di 2025: Didominasi Banjir dan Tanah Longsor”. Diakses pada 5 Juni 2026 dari https://www.suara.com/news/2026/01/12/141436/indonesia-dilanda-2139-bencana-di-2025-didominasi-banjir-dan-tanah-longsor
- Kompas.com (1 April 2026) “Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?”. Diakses pada 5 Juni 2026 dari https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/01/170000765/analisis-geospasial–hujan-bukan-satu-satunya-penyebab-banjir-dan-longsor
- Jurnal “Sistem Pemantauan Ketinggian Air Sungai untuk Tanggap Bencana Banjir Berbasis Internet of Things”. Diakses pada 5 Juni 2026 dari https://doaj.org/article/713846e5d3014b04a4bf3e65a97d8aff
- Cirebon.pikiran-rakyat.com (20 Juli 2024) “Peneliti BRIN Kembangkan Pengelolaan DAS dengan Teknologi AI dan IoT”. Diakses pada 5 Juni 2026 dari https://cirebon.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-048347827/peneliti-brin-kembangkan-pengelolaan-das-dengan-teknologi-ai-dan-iot