Teknologi Filter Air ITB Bantu Pemulihan Bayi Diare di Aceh Tamiang

Sumber: Freepik.com

Krisis air bersih masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Aceh Tamiang yang terdampak bencana pada beberapa bulan silam. Kondisi ini membuat masyarakat sangat bergantung pada sumber air sungai yang keruh dan tidak layak konsumsi. Dampaknya, berbagai masalah kesehatan muncul, salah satunya diare yang bahkan dialami oleh bayi dan berlangsung cukup lama tanpa perbaikan signifikan.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Institut Teknologi Bandung menghadirkan teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) mobile yang dikembangkan bersama mitra industri. Teknologi ini dipasang langsung di tepi Sungai Tamiang, tepatnya di Desa Sukajadi, sebagai sumber utama air bagi masyarakat setempat. Sistem ini dirancang untuk menyedot air sungai yang awalnya keruh, kemudian memprosesnya melalui dua tahap filtrasi hingga menghasilkan air yang lebih jernih dan layak digunakan, bahkan dapat diminum.

Secara teknis, alat ini memiliki kapasitas produksi yang cukup besar, yakni mencapai sekitar 7.000–7.200 liter air per jam. Kapasitas ini memungkinkan distribusi air bersih dalam jumlah besar kepada masyarakat. Setelah melalui proses penyaringan, air ditampung dalam tangki berkapasitas besar sebelum dialirkan ke toren-toren di pemukiman warga. Melalui sistem distribusi ini, sekitar 1.200 warga kini dapat mengakses air bersih untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, mencuci, hingga air minum.

Kehadiran teknologi ini memberikan dampak nyata di lapangan. Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah kasus seorang bayi yang mengalami diare selama hampir satu bulan dan tidak kunjung membaik meskipun telah mendapatkan pengobatan. Setelah keluarganya mulai menggunakan air hasil filtrasi dari sistem ini, kondisi bayi tersebut dilaporkan berangsur membaik hingga akhirnya pulih.

Selain sebagai solusi jangka pendek, teknologi ini juga menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana yang lebih luas. Air bersih yang dihasilkan tidak hanya membantu menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Bahkan, pada momen tertentu seperti bulan Ramadan, warga terlihat antre membawa galon untuk mendapatkan air bersih dari sistem ini, menunjukkan betapa pentingnya keberadaan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Inisiatif ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan industri dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Pengembangan teknologi oleh ITB, yang didukung oleh pihak industri, membuktikan bahwa inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan langsung untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat, khususnya akses terhadap air bersih.

Secara keseluruhan, teknologi filter air ini menjadi contoh konkret bagaimana inovasi tepat guna mampu mengubah air sungai yang keruh menjadi sumber kehidupan yang aman dan layak konsumsi. Ke depan, pendekatan serupa berpotensi untuk diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia yang masih menghadapi tantangan serupa dalam akses air bersih dan sanitasi.


Referensi